Bagi yang ingin bahan UTS yang ( soal + jawaban ) MK Akuntasi Internasional Dosen Pk Ari Bramasto,
bisa download di sini
keep the fight
Monday, March 29, 2010
Tuesday, March 23, 2010
Tuesday, February 2, 2010
Menikmati Syukur

Pernahkah anda berjalan-jalan diperbukitan melihat kesamping kiri lembah dan pesawahan yang menguning siap panen, disebelah kanan tebing terjal dengan pepohonan bebas, atau berdiri ditepi pantai sepi menatap laut seolah tanpa batas. Alangkah indah ciptaan-Nya. Siapakah yang telah memberi anugerah yang begitu beragam dan melimpah : udara, air, tanah, hasil pertanian, ternak, bahan tambang dan lainnya. Semua kenikmatan itu tidak dapat dihitung yang menunjukkan bahwa Allah Maha Kaya dan memiliki keagungan. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kamu tidak dapat menghitungnya (QS An Nahl : 18). Nikmat yang diberikan Allah tidak hanya harta kekayaan materi tetapi juga kepuasan, ketentraman hati, kebahagiaan, kesehatan, waktu luang termasuk kenikmatan (QS Asy Syura’ :36)
Semua kenikmatan diperuntukkan bagi manusia (QS Ibrahim : 32-34).
bersyukur kepada Allah Swt. adalah sebagai bentuk “serah diri” kita kepadaNya. Kita bisa hidup, sehat jasmani, bisa makan dan minum, bisa mengenyam pendidikan, dan bisa mendapatkan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Termasuk, kita wajib bersyukur karena kita menjadi Muslim. Menjadi Muslim itu kebanggaan tersendiri dan tentu saja anugerah terindah yang kita miliki. Nggak bisa ditukar dengan duit sebesar apa pun. Itu sebabnya, kita wajib bersyukur.
Makna dan Hakikat Syukur
Secara bahasa ‘syukur’ berarti sesuatu yang menunjukkan kebaikan dan penyebarannya (Kamus Al- Muhidh, hal 537).
Menurut istilah ‘syukur’ adalah memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatau yang telah diberikan kepada kita berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri kepada-Nya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang tokoh ulama terkemuka, menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdzîb Madârij al-sâlikîn oleh Abdul Mun‘im al‘Izzî, hlm. 348).
Kedudukan dan urgensi syukur
- Syukur merupakan wasiat Allah yang pertama bagi manusia setelah mampu berfikir, Allah memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tua (QS Luqman : 14)
- Allah meridhai orang-orang yang bersyukur (QS Az Zumar : 7)
- Dan Allah mencela orang-orang yang mengkufuri nikmatNya (QS Al Baqarah : 152, QS An Nahl : 83)
- Syukur akan menambah datangnya kenikmatan (QS Ibrahim :7).
Cara Bersyukur
Minimal adalah dengan mengucap “Alhamdulillah” atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita.
apakah Lisan kita selalu mengucap pujian dan pengakuan kepada Allah Swt. Sang Pemberi nikmat kepada kita? Apakah lisan kita terbiasa mengucapkan alhamdulillah? Atau malah nggak pernah sama sekali? Termasuk mengakui Allah Swt. sebagai Pencipta sekaligus yang memberi nikmat kepada kita? Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur.
Terus, dalam hati kita, apakah udah kita wujudkan dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta kepada Allah Swt. Bersaksi bahwa tidak ada Dzat yang wajib disembah kecuali Allah Swt. Itu sebabnya, tumbuh rasa cinta yang paling kuat dan besar hanya kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt. menjelaskan dalam firmanNya:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat (besar) cintanya kepada Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 165)
Lalu, membekaskah rasa syukur kita kepada Allah dengan penampakkan anggota tubuh kita dalam bentuk patuh dan taat kepadaNya? Mari kita mengukur diri kita. Seberapa pantas kita bersyukur yang terwujud pada patuh dan taat kepada Allah Swt. Kita bisa bertanya, apakah selama ini, kita sudah patuh dan mentaati perintahNya? Sholat, puasa wajib Ramadhan, dan zakat pernah kita lakukan dengan sungguh-sungguh karena ketaatan dan kepatuhan kita kepadaNya?
Imam Ibn Qayyim menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur.
Lima pilar pokok itu adalah: Pertama, kepatuhan orang yang bersyukur kepada Pemberi nikmat. Kedua, mencintaiNya. Ketiga, mengakui nikmat dariNya. Keempat, memujiNya atas nikmatNya. Dan yang kelima, tidak menggunakan nikmat yang diberikanNya untuk sesuatu yang tidak Dia sukai.
Semua kenikmatan diperuntukkan bagi manusia (QS Ibrahim : 32-34).
bersyukur kepada Allah Swt. adalah sebagai bentuk “serah diri” kita kepadaNya. Kita bisa hidup, sehat jasmani, bisa makan dan minum, bisa mengenyam pendidikan, dan bisa mendapatkan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Termasuk, kita wajib bersyukur karena kita menjadi Muslim. Menjadi Muslim itu kebanggaan tersendiri dan tentu saja anugerah terindah yang kita miliki. Nggak bisa ditukar dengan duit sebesar apa pun. Itu sebabnya, kita wajib bersyukur.
Makna dan Hakikat Syukur
Secara bahasa ‘syukur’ berarti sesuatu yang menunjukkan kebaikan dan penyebarannya (Kamus Al- Muhidh, hal 537).
Menurut istilah ‘syukur’ adalah memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatau yang telah diberikan kepada kita berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri kepada-Nya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang tokoh ulama terkemuka, menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdzîb Madârij al-sâlikîn oleh Abdul Mun‘im al‘Izzî, hlm. 348).
Kedudukan dan urgensi syukur
- Syukur merupakan wasiat Allah yang pertama bagi manusia setelah mampu berfikir, Allah memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tua (QS Luqman : 14)
- Allah meridhai orang-orang yang bersyukur (QS Az Zumar : 7)
- Dan Allah mencela orang-orang yang mengkufuri nikmatNya (QS Al Baqarah : 152, QS An Nahl : 83)
- Syukur akan menambah datangnya kenikmatan (QS Ibrahim :7).
Cara Bersyukur
Minimal adalah dengan mengucap “Alhamdulillah” atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita.
apakah Lisan kita selalu mengucap pujian dan pengakuan kepada Allah Swt. Sang Pemberi nikmat kepada kita? Apakah lisan kita terbiasa mengucapkan alhamdulillah? Atau malah nggak pernah sama sekali? Termasuk mengakui Allah Swt. sebagai Pencipta sekaligus yang memberi nikmat kepada kita? Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur.
Terus, dalam hati kita, apakah udah kita wujudkan dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta kepada Allah Swt. Bersaksi bahwa tidak ada Dzat yang wajib disembah kecuali Allah Swt. Itu sebabnya, tumbuh rasa cinta yang paling kuat dan besar hanya kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt. menjelaskan dalam firmanNya:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat (besar) cintanya kepada Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 165)
Lalu, membekaskah rasa syukur kita kepada Allah dengan penampakkan anggota tubuh kita dalam bentuk patuh dan taat kepadaNya? Mari kita mengukur diri kita. Seberapa pantas kita bersyukur yang terwujud pada patuh dan taat kepada Allah Swt. Kita bisa bertanya, apakah selama ini, kita sudah patuh dan mentaati perintahNya? Sholat, puasa wajib Ramadhan, dan zakat pernah kita lakukan dengan sungguh-sungguh karena ketaatan dan kepatuhan kita kepadaNya?
Imam Ibn Qayyim menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur.
Lima pilar pokok itu adalah: Pertama, kepatuhan orang yang bersyukur kepada Pemberi nikmat. Kedua, mencintaiNya. Ketiga, mengakui nikmat dariNya. Keempat, memujiNya atas nikmatNya. Dan yang kelima, tidak menggunakan nikmat yang diberikanNya untuk sesuatu yang tidak Dia sukai.
Subscribe to:
Posts (Atom)